Tuesday, November 7, 2023

Batu menangis

 

Legenda Batu Menangis – Kalimantan Barat

Pada zaman dahulu kala, di atas sebuah bukit kecil yang jauh dari pemukiman penduduk, di daerah Kalimantan Barat hiduplah seorang janda yang sangat miskin bersama seorang anak gadisnya

Anak gadisnya sangat cantik, bentuk tubuhnya sangat indah, rambutnya terurai mengikal sampai ke mata kaki. Poni rambutnya tersisir rapi dan keningnya sehalus batu cendana. Namun sayangnya ia memiliki sifat yang buruk.

Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.

Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang di jalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan di belakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup di tempat terpencil, tak seorang pun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.

Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, “Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan di belakang itu ibumu?”

Namun, apa jawaban anak gadis itu ?

“Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku!

Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.

“Hai, manis. Apakah yang berjalan di belakangmu itu ibumu?” “Bukan, bukan,” jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. ” Ia adalah budak!”

Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang di sepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.

“Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini! Hukumlah dia….”

Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.

”Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu…Ibu…ampunilah anakmu..” Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut ” Batu Menangis “.

Demikianlah cerita legenda batu menangis, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Nyi roro Kidul

 Kisah Asal-Usul Nyi Roro Kidul Diambil dari beberapa sumber, legenda Nyi Roro Kidul merupakan kisah seorang putri cantik yang tinggal di kerajaan Pakuan Pajajaran yang terdapat di Jawa Barat. Putri tersebut bernama Kandita. Putri Kandita adalah salah satu dari sekian banyaknya yang dimiliki oleh Raja Prabu Siliwangi. Selain mempunyai paras yang sangat cantik, Putri Kandita pun dikenal bijaksana serta baik hati. Maka dari itu, Prabu Siliwangi mempunyai keinginan jika Putri Kandita dapat menjadi penerus takhta kerajaannya. Keinginan Raja Prabu Siliwangi itu langsung ditolak mentah-mentah oleh para selir dan anak-anaknya yang lain. Akibatnya, mereka pun mulai berkumpul dan merencanakan niat jahat untuk mengusir Putri Kandita beserta ibunya, permaisuri kerajaan. Agar rencana busuk tersebut berjalan mulus, maka mereka pun meminta bantuan pada seorang penyihir yang tinggal di sebuah desa terpencil. Penyihir tersebut terkenal mempunyai ilmu hitam yang dipercaya ampuh untuk menyingkirkan Putri Kandita dan ibunya. Mereka meminta sang penyihir untuk memberi kutukan kepada Putri Kandita dan permaisuri. Sang penyihir pun menyanggupi permintaan tersebut dengan mengirimkan penyakit kista pada Putri Kandita serta permaisuri. Hingga pada suatu hari, Putri Kandita dan ibunya berhasil dibuat terkejut karena ketika baru terbangun di pagi hari, mereka mendapati kulit yang borok dengan disertai bau busuk. Raja Prabu Siliwangi pun meminta tabib kerajaan untuk segera mengobati Putri Kandita dan permaisuri. Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium Sayangnya, meskipun sudah berusaha memberikan berbagai macam obat, tapi tabib kerajaan pun menyerah dan tidak mampu menyembuhkan penyakit Putri Kandita dan permaisuri. Pada akhirnya, penyakit tersebut merenggut nyawa permaisuri karena usianya yang sudah senja tak mampu menanggungnya. Hanya Putri Kandita saja yang mampu bertahan dari penyakit kista tersebut. Raja Prabu Siliwangi pun dibuat terpukul dan frustrasi dengan keadaan yang menimpa Putri Kandita dan istrinya itu. Rencana jahat para selir dan anak-anaknya berlanjut dengan menghasut Raja Prabu Siliwangi untuk mengusir Putri Kandita karena takut akan menulari orang-orang yang ada di dalam istana. Meskipun sempat menolak, tapi pada akhirnya Raja Prabu Siliwangi pun menuruti usulan para selir dan anak-anaknya. Rasa Sakit Hati Putri Kandita Putri Kandita yang secara tidak sengaja mendengar rencana Raja Prabu Siliwangi, langsung memutuskan untuk kabur dari istana dengan perasaan dendam dan sakit hati. Putri Kandita pergi tanpa arah dan tujuan, hingga pada akhirnya mencapai pesisir pantai selatan Pulau Jawa. Rasa lelah yang dirasakan Putri Kandita membuat dirinya memutuskan untuk beristirahat sejenak di atas batu karang. Dalam tidurnya, Putri Kandita bermimpi jika penyakit yang dideritanya bisa sembuh jika menceburkan diri ke dalam air laut. Saat membuka mata, Putri Kandita pun kebingungan dengan mimpinya tersebut, tapi memutuskan untuk melakukan hal yang disampaikan dalam bunga tidurnya. Benar saja, ketika Putri Kandita menceburkan dirinya ke air laut, seluruh kulitnya yang borok pun ikut luruh. Terlanjur sakit hati, Putri Kandita memilih untuk tetap tinggal di pantai selatan. Kecantikannya yang tidak ada duanya semakin menyebar ke seluruh penjuru negeri, hingga berdatangan para Pangeran dari berbagai kerajaan yang berniat untuk meminangnya. Namun, Putri Kandita seakan tidak tertarik dengan lamaran para pangeran dan justru malah memberi syarat untuk beradu kesakitan di atas Laut Selatan. Tidak ada yang mampu menandingi kesaktian Putri Kandita dan malah menjadi pengikut dan pengawal setianya. Semenjak saat itu, Putri Kandita pun dikenal sebagai ratu penguasa Laut Selatan yang disebut dengan Nyi Roro Kidul. Jika tertarik dengan kisah rakyat Nusantara lainnya, buku Seri Cerita Rakyat 37 Provinsi: Sulawesi Tengah – Legenda Putri Duyung bisa menjadi pilihan cerita lainnya untuk dibacakan kepada anak-anak. Bercerita tentang seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya, dimarahi oleh suaminya karena telah memberikan seluruh ikan kepada anak-anak-anaknya. Akibat kesedihan yang mendalam, ibu tersebut memilih untuk pergi meninggalkan rumah. Dirinya berjalan terus hingga mencapai pantai dan secara tidak sadar sudah berada di tengah lautan.



Timun Emas

 

Hidup Seorang Janda Bernama Mbok Srini yang Kesepian dan Mengharapkan Kehadiran Anak

Cerita Timun Mas dan Raksasa Buto Ijo Foto: Dok. Romadecade.org
zoom-in-whitePerbesar
Cerita Timun Mas dan Raksasa Buto Ijo Foto: Dok. Romadecade.org
Alkisah di sebuah desa di daerah Jawa Tengah, hidup seorang janda paruh baya bernama Mbok Srini. Karena kesepian, ia sangat mengharapkan kehadiran seorang anak, namun sayangnya harapan itu pupus karena suaminya telah meninggal dunia.
Tiap hari ia selalu berdoa agar bisa diberikan seorang anak untuk menemani hidupnya. Sampai suatu hari, raksasa hijau (buto ijo) yang kebetulan lewat mendengar doa Mbok Srini.
ADVERTISEMENT
Dengan suaranya yang menggelegar, raksasa itu bertanya, “Hei wanita tua! Apakah kau sungguh-sungguh menginginkan seorang anak?”
Mbok Srini terkejut. Dengan gemetar, ia menjawab ia mendambakan seorang anak yang bisa menemaninya. Namun sepertinya hal itu tak mungkin mengingat usianya yang sudah tua, dan suaminya juga telah meninggal.

Mbok Sri yang Mendambakan Kehadiran Anak Membuat Perjanjian dengan Buto Ijo

Ilustrasi membacakan cerita Timun Mas. Foto: delcarmat/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membacakan cerita Timun Mas. Foto: delcarmat/shutterstock
“Ha… ha… ha… aku bisa mengabulkan keinginanmu dengan mudah, tapi tentu ada syaratnya. Apakah kau bersedia?” tanya si raksasa.
“Baiklah, aku bersedia,” sahut Mbok Srini menjawab walau hatinya takut melihat sosok raksasa yang besar dan seram.
“Peliharalah anak yang kuberikan padamu nanti. Beri ia makan yang bangak supaya gemuk. Aku akan menjemputnya saat ia berusia 6 tahun,” ucap si raksasa menggelegar.
ADVERTISEMENT
Tidak ada pilihan lain, Mbok Srini menerima syarat tersebut. Raksasa itu memberinya segenggam biji mentimun untuk ditanam.

Biji Timun yang Ditanam Mbok Srini Berubah Menjadi Bayi Perempuan Cantik

Mbok Srini pun mengikuti saran si raksasa untuk menanam biji mentimun yang didapatkannya. Biji itu tumbuh dan berbuah dalam waktu singkat. Dalam beberapa hari saja, pohon mentimun tumbuh dengan buahnya yang sangat besar siap untuk dipanen.
Betapa terkejutnya Mbok Srini ketika sedang memetik salah satu mentimun, di hadapannya terdapat bayi perempuan yang cantik. Bayi itu dinamai Timun Mas, karena ia lahir dari mentimun yang berwarna keemasan.

Raksasa Datang Menagih Janjinya

Timun Mas dan Raksasa Foto: Dok. dongengceritarakyat.com
zoom-in-whitePerbesar
Timun Mas dan Raksasa Foto: Dok. dongengceritarakyat.com
Mbok Srini pun merawat Timun Mas dengan penuh kesayangan. Hingga saat Timun Mas berusia 6 tahun, raksasa kembali datang menagih janjinya untuk memakan gadis itu.
ADVERTISEMENT
Tak kehilangan akal, Mbok Srini pun mencari cara untuk menyelamatkan Timun Mas agar tidak jadi santapan raksasa.
"Sabar, aku akan menyerahkannya padamu, tapi apakah kau mau? Tubuhnya masih kecil dan kurus, aku rasa ia belum cukup lezat untuk kau makan,” kata Mbok Srini.
“Ia sedang pergi. Percayalah padaku, kembalilah dua tahun lagi, aku jamin ia sudah gemuk,” jawab Mbok Srini. Raksasa itu percaya pada perkataan Mbok Srini. “Dua tahun bukanlah waktu yang lama,” pikirnya.

Timun Mas Mencari Pertapa yang Muncul dalam Mimpi Mbok Srini

Ilustrasi Ibu dan anak baca dongeng Timun Mas. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu dan anak baca dongeng Timun Mas. Foto: Shutter Stock
Sepeninggal raksasa, Mbok Srini mencari akal untuk menyelamatkan Timun Mas. Ia juga berdoa supaya Tuhan memberinya jalan keluar. Suatu malam, Tuhan menjawab doanya.
Mbok Srini bermimpi bertemu dengan seorang pertapa di gunung. Pertapa itu menyuruh Timun Mas untuk menemuinya dan mengatakan bahwa ia akan menolong Timun Mas.
ADVERTISEMENT
Setelah berhari-hari mendaki, Timun Mas akhirnya mencapai puncak gunung. Ia melihat seorang lelaki tua berambut putih dan berjubah putih. “Permisi, Kek. Namaku Timun Mas. Ibuku bilang, Kakek akan membantuku melawan raksasa jahat yang hendak menyantapku,” sapa Timun Mas.
“Oh, kau yang bernama Timun Mas? Ya, aku memang mendatangi ibumu lewat mimpi. Cucuku, jika raksasa itu kembali, berlarilah dengan kencang,” pesan si pertapa itu.
“Langkah kakinya lebar, aku pasti mudah tertangkap,” kata Timun Mas heran.
“Ambillah empat buah bungkusan kecil ini. Lemparkan satu persatu ketika kau melarikan diri,” jawab pertapa itu dengan tegas.

Raksasa Kembali Datang untuk Mengambil Timun Mas

Ilustrasi membacakan dongeng kepada anak. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membacakan dongeng kepada anak. Foto: Shutter Stock
Dua tahun berlalu. Saatnya raksasa kembali untuk mengambil Timun Mas. Benar saja, tiba-tiba terdengar langkah kaki dan teriakan menggelegar, “Mbok Srini! Mana anakmu? Aku sudah lapar!” teriaknya.
ADVERTISEMENT
“Kumohon, jangan makan dia,” pinta Mbok Srini.
“Enak saja. Kau sudah berjanji, kau tak boleh mengingkarinya!” jawab raksasa. Dengan terpaksa, Mbok Srini membawa Timun Mas menemui raksasa itu.
Timun Mas berbisik padanya, “Jangan khawatir, Bu.”

Kecerdikan Timun Mas Melawan Raksasa

Ilustrasi ibu membacakan dongeng untuk anak. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu membacakan dongeng untuk anak. Foto: Shutter Stock
Timun Mas segera membuka bungkusan pemberian kakek pertapa itu. Bungkusan pertama, ternyata berisi biji mentimun. Ia melemparkannya ke arah raksasa. Keajaiban pun terjadi.
Biji mentimun itu berubah menjadi ladang timun yang buahnya sangat banyak. Langkah raksasa tertahan oleh ladang timun itu.
Dengan susah payah ia harus melewati rintangan dan batang-batang pohon yang meliliti tubuhnya. Namun, ia berhasil meloloskan diri. Ia bertambah marah.
Kemudian bungkusan kedua itu berisi jarum. Timun Mas melemparkan jarum-jarum itu. Jarum-jarum itu berubah menjadi pohon-pohon bambu yang tinggi dan berdaun lebat. Raksasa harus bekerja keras menerobos pohon-pohon bambu itu.
ADVERTISEMENT
Timun Mas membuka bungkusan ketiga. Sambil terus berlari, ia me lemparkan isi bungkusan itu, yaitu garam. Lagi-lagi keajaiban terjadi. Garam itu berubah menjadi lautan yang luas.
Namun, lautan itu tak menjadi penghalang bagi raksasa. Ia berenang melintasi lautan itu, dan berhasil mencapai tepi. Raksasa mulai kelelahan, tapi mengingat lezatnya daging Timun Mas, ia kembali bersemangat berlari.
Timun Mas ketakutan melihat kekuatan raksasa itu. Bungkusan terakhir adalah harapan satu-satunya. Sambil berdoa, Timun Mas membuka bungkusan keempat. Isinya terasi.
Sekuat tenaga, Timun Mas melemparkan terasi itu ke arah raksasa. Apa yang terjadi? Terasi itu berubah menjadi lautan lumpur yang panas mendidih.
Raksasa yang berlari kencang tak dapat menghentikan langkahnya. Ia pun terperosok ke dalam lumpur. Ia berteriak dan meronta. Namun semakin ia meronta, semakin dalam lumpur itu mengisap tubuhnya. Ia akhirnya tenggelam ke dalam lumpur panas.
ADVERTISEMENT

Timun Mas Hidup Bahagia Bersama Mbok Srini

ADVERTISEMENT
Timun Mas menghentikan langkahnya. Ia lega karena berhasil menyelamatkan diri. Dengan kelelahan ia berjalan pulang ke rumahnya.
Mbok Srini, yang terus menangis sepeninggal Timun Mas, sangat bahagia melihat kepulangan putrinya. Mereka berpelukan dan mengucap syukur pada Tuhan atas pertolongan-Nya.
Sejak saat itu, Mbok Srini hidup bahagia bersama Timun Mas.

Asal usul Kediri